Kota Depok yang biasanya dipenuhi orang-orang, mahasiswa, pekerja, anak sekolah, yang hiruk pikuk di seantero jagat Depok. Jalan-jalan Depok yang selalu dipenuhi mobil, motor, dan bus atau angkot yang sering mangkal di tiap ruas pinggir jalan. Kota Depok yang saat ini telah menjadi daerah komersial, yag setiap di pinggir jalan raya, terutama Margonda dipenuhi kios-kios, ruko, kantor, mall-mall, sampai apartemen. Mereka buka sampai malam, sehingga aktivitas Depok terlihat tidak pernah berhenti. Kalo ngebayangin ini, seakan-akan Kota Depok sudah menjadi kota paling sibuk seperti Jakarta. Bayangin saja, setiap jam berangkat dan jam pulang kerja, jalan Margonda sudah kayak barisan semut kendaraan besi. Kalo sudah terjebak ke dalamnya, jangan harap bisa balik dengan cepat, karena putaran yang ada di sepanjang Margonda di tutup pada jam segitu. Ini berarti, kalo sudah kena kemacetan di Margonda, kita baru bisa balik arah di persimpangan jalan Juanda, yang jaraknya sekitar 2 km dari jembatan UI. Nah, udah kebayang kan, sibuknya kota Depok pada hari-hari biasa.
Tetapi hari ini kota Depok kok kelihatan beda dari biasanya. Yang biasanya jam 9, masih ada kemacetan di Margonda, trus orang banyak nyebrang seenaknya. Sekarang, jalan Margonda udah kayak jalan kampong, mengingatkan kita pada kota Depok jaman baheula. Bener-bener sepi. Kios, ruko ampe warnet yang biasanya rame, ampe kadang nggak kebagian tempat, sekarang sepi bahkan banyak yang meliburkan diri alias tutup. Padahal sebelumnya, kota ini menjadi lebih rame dari biasanya. Puasa Ramadhan membuat kemacetan Margonda pada jam pulang kerja menjadi lebih parah, took-toko, warung makan, kios, mini market, dan mall menjadi lebih rame dari biasanya. Hal ini berkurang sedikit demi sedikit menjelang Lebaran, seperti hari ini, H-2 Lebaran. Kota Depok sudah bagaikan kota yang hilang, took-toko tutup, jalan raya sepi, manusia hilang entah kemana.